Garuda Menjemputku


Aku berjalan dibawah terik matahari
Tidak ada yang mengenali diriku
Aku bukan siapa-siapa
Aku hanyalah seorang yang biasa

Kulihat kanan dan kiri
Berstereo ria mata memandang luas
Keramaian yang sibuk
Tanpa ada yang menatap mataku


Kumendengar perbincangan
Berstereo ria telinga mendengar luas
Keramaian yang sibuk

Tanpa ada yang mendengar ucapanku
Aku berharap dikenal
Meski aku tahu aku tidaklah terkenal
Mengapa mereka tidak tahu prestasiku?
Mengapa meraka tidak tahu yang elah kuperbuat?
Mengapa mereka tidak tahu aku telah mengaharumkan nama bangsa ini?

Aku berprestai, cerdas dan pemenang
Didunia internasional aku berbuat dan berhasil
Lewat otakku aku mengaharumkan bangsa ini
Tetapi belum juga terkenal

Mengapa aku tidak terkenal?
Padahal otakku brilian sekali
Aku tahu jawabannya
Bukan otak yang bisa berbicara
Tetapi hanya otot yang bisa terkenal
Beserta fisik rupawan yang bisa terkenal

Pemain sepakbola, bulutangkis, tenis
Dengan hanya otot mereka terkenal
Artis, selebritis, aktor, aktris
Dengan hanya fisik rupawan mereka terkenal

Dengarlah wahai garuda
Aku yang dengan otak mengharumkan bangsa ini
Lihatlah wahai garuda
Aku yang denga kecerdasan tetapi tidak terkenal

Aku terus berjalan
Tiba-tiba aku melayang bak terbang
Ada cakar dibahuku
Kulihat keatas, garuda mengenggamku

Garuda mendengar keluhanku
Garuda melihat keistimewaanku
Garuda telah sadar akan bakatku
Sekarang, garuda menjemputku

Aku terjatuh

Berlari tanpa henti
Meski letih sudah menghampiri
Mengejar yang tak pasti
Sebagai mimpi
Yang ingin diraih

Didalam otak sempat tersirat
Rasa untuk ingin istirahat
Melepas semua penat
Yang telah terpahat

Tetapi kutepis rasa yang ada
Meskipun tak dipungkiri aku lelah
Berlari bak kuda
Padahal semua belum tentu jadi realita

Tetapi semua impianku harus kukubur dalam-dalam
Tidak boleh diingat lagi siang dan malam
Pahit memang rasanya
Tetapi harus kuterima dengan lapang dada

Telah sekian lama aku berlari tiada asa
Karena lelah akhirnya aku pasrah
Badan terpuruk di tanah
Dengan berat menutup mata akan impian yang pernah ada

Karena aku ...
Telah terjatuh ...

Jatuh Lagi

Gelora asmara yang vakum kambuh lagi
Sentruman cinta bermega volt datang menghampiri
Gelombang syahdu nan indah tersusun rapi di hati
Impuls suka terkirim ke otak seperti mimpi

Jatuh yang paling enak kurasakan
Inilah satu-satunya jatuh yang diinginkan
Sampai tidak mau makan
Demi otak menggambarkan sesosok bayangan

Dia, dia, dia ...
Hanya dia  ...
Dari dia ...
Untuk dia ...

Cinta ini seluruhnya ingin kupersembahkan lagi
Meski telah usang karena dipakai berkali-kali
Memang dia bukan yang pertama dihati
Tetapi sekarang yang paling kuat kurasai

    Total Tayangan Halaman

    .:. Abstrak Orak-Arik tentang Kumpulan Puisi di Gudang yang hampir di bakar karena tak layak di baca apalagi di kirim ke penerbit .:.

    Followers

    Labels